
Bandung, 4 Februari 2026 – Dalam rangka memperingati Bulan K3 Nasional 2026, UPT K3L ITB menyelenggarakan Seminar Sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (SMK3L). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem serta budaya K3 di lingkungan kampus yang memiliki kompleksitas aktivitas akademik dan riset yang tinggi.
Seminar diawali dengan sambutan oleh Kepala UPT K3L ITB, Bapak Mugi Sugiarto, S.Si., M.A.B. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa penguatan sistem K3 di ITB merupakan kebutuhan strategis, seiring dengan beragamnya aktivitas di laboratorium, bengkel, fasilitas riset, maupun ruang pembelajaran. Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara unit kerja, fakultas, dan seluruh warga ITB dalam membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya ITB, Prof. Dr. Dea Indriani Astuti, S.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa K3 tidak boleh dipandang sekadar sebagai slogan atau kewajiban administratif, melainkan harus menjadi budaya yang terinternalisasi dalam keseharian sivitas akademika. Mengingat tingginya kompleksitas aktivitas di ITB, penerapan K3 dinilai semakin krusial untuk menjamin keselamatan, kesehatan, serta mendukung kinerja seluruh warga kampus. Ia berharap tema seminar, “Membangun Budaya K3 untuk Mewujudkan Kampus ITB yang Aman, Selamat, dan Sehat,” dapat menjadi penggerak terciptanya lingkungan kerja dan belajar yang lebih aman, sehat, dan produktif.
Acara selanjutnya diisi dengan sambutan dan paparan singkat dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Dra. Hj. I Gusti Agung Kim Fajar Wiyati Oka, M.Si. Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa angka kecelakaan kerja di Jawa Barat menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, dari 70.801 klaim pada 2023, meningkat menjadi 82.352 klaim pada 2024, dan melonjak hingga 192.158 klaim pada 2026. Data tersebut menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan kerja harus mendapat perhatian serius di seluruh sektor, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, lingkungan kerja yang aman tidak hanya berperan dalam mencegah kecelakaan, tetapi juga penting untuk menjaga kesehatan mental, fokus, dan produktivitas tenaga kerja maupun mahasiswa.
Memasuki sesi utama, Dr.Eng. Hafis Pratama Rendra Graha, S.T., M.T., M.Eng. memaparkan materi mengenai penguatan sistem dan budaya K3 di ITB. Ia menekankan pentingnya pendekatan preventif untuk mencegah risiko sebelum terjadi serta kuratif dalam penanganan insiden. Beberapa poin utama yang disampaikan antara lain:
- Perlunya SOP K3 yang terpusat namun tetap fleksibel sesuai karakter tiap unit kerja, khususnya laboratorium.
- Penguatan safety induction, safety inspection, safety drill, dan safety communication.
- Digitalisasi sistem K3, termasuk pemanfaatan teknologi dan AI untuk deteksi dini risiko.
- Penyediaan fasilitas keselamatan seperti alat deteksi bahaya, manajemen penyimpanan gas yang aman, dan pintu tahan api.
- Penanaman budaya pelaporan insiden tanpa rasa takut atau sungkan.

Sesi berikutnya disampaikan oleh dr. Rechta Antartika, Sp.PD, Dokter spesialis penyakit dalam dari Klinik BMG ITB, yang membahas kesehatan kerja di lingkungan kampus dari sudut pandang medis. Ia menekankan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama produktivitas. Tanpa kondisi kesehatan yang baik, sumber daya manusia yang unggul dan fasilitas yang canggih tidak akan dapat berfungsi optimal. Sepanjang tahun 2025, kasus yang paling banyak ditangani Klinik BMG ITB antara lain ISPA/flu, TB paru, sakit kepala, gastritis, dehidrasi, luka ringan, dan cedera olahraga, serta sejumlah kasus sedang hingga gawat darurat seperti asma, reaksi alergi, nyeri dada, kejang, dan trauma kepala.
dr. Rechta juga menjelaskan berbagai potensi hazard di lingkungan kampus yang bersumber dari faktor fisik, kondisi lingkungan, maupun tindakan manusia yang tidak aman, seperti tidak menggunakan APD atau mengabaikan prosedur keselamatan. Ia menyoroti tingginya kasus ISPA (lebih dari 2.000 kasus per tahun), sebagai pengingat pentingnya kesadaran individu dalam menjaga kesehatan. Terkait penyakit menular, ia menekankan kewaspadaan terhadap Tuberkulosis (TB), mengingat Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi kasus TB di dunia. Kampus sebagai ruang publik memiliki potensi risiko penularan, sehingga pemeriksaan kesehatan rutin, edukasi, dan perbaikan kualitas ventilasi menjadi sangat penting. Ia juga mengingatkan pentingnya pemahaman prinsip Pertolongan Pertama (ABC) Airway, Breathing, Circulation sebagai langkah awal sebelum bantuan medis lanjutan tiba.
Sebagai penutup, Kepala UPT K3L ITB, Bapak Mugi Sugiarto, S.Si., M.A.B., kembali menegaskan bahwa mewujudkan kampus yang aman, selamat, dan sehat bukan hanya tanggung jawab unit K3L, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga ITB. Kepatuhan terhadap SOP, kepedulian terhadap keselamatan diri dan orang lain, serta keberanian melaporkan potensi bahaya menjadi kunci penguatan budaya K3. Seminar ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi titik awal penguatan sistem K3 yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis data demi mendukung terwujudnya ITB sebagai kampus unggul yang aman, sehat, dan produktif.





